LAMR Dukung Penertiban Panglong Arang Demi Selamatkan Mangrove Meranti
Ketua Umum DPH LAMR Datuk Seri H. Taufik Ikram Jamil mendukung langkah Polda Riau menertibkan panglong arang demi menyelamatkan mangrove dan pesisir pantai Kepulauan Meranti dari kerusakan lingkungan.
PEKANBARU, TOPIKPUBLIK.COM – Upaya penyelamatan kawasan mangrove dan pesisir pantai di Kabupaten Kepulauan Meranti mendapat dukungan penuh dari tokoh adat Melayu Riau. Dalam perjalanan rihlah Koordinator Jagok Grup Kepulauan Meranti, Ade Tian Prahmana, Sabtu (09/05/2026), ia mendapat kesempatan bersilaturahmi sekaligus mewawancarai langsung Ketua Umum Dewan Pimpinan Harian (DPH) Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR), Datuk Seri H. Taufik Ikram Jamil di kediamannya di Pekanbaru.
Dalam pertemuan tersebut, pembahasan utama tertuju pada kondisi kerusakan hutan mangrove di wilayah pesisir Kepulauan Meranti yang dinilai semakin mengkhawatirkan akibat aktivitas panglong arang dan pembukaan kawasan mangrove secara masif.
Datuk Seri H. Taufik Ikram Jamil menegaskan bahwa pihaknya sangat mendukung langkah penertiban yang dilakukan aparat penegak hukum, khususnya Polda Riau, demi menyelamatkan lingkungan hidup dan masa depan masyarakat pesisir.
“Kita sangat mendukung upaya-upaya dari berbagai pihak untuk menyelamatkan alam Riau, khususnya tentang mangrove di Meranti, karena itu sudah mencapai tahap yang sangat tidak bisa ditoleransi,” ujar Datuk Seri.
Menurutnya, penertiban terhadap panglong arang harus dilakukan apabila terbukti mempercepat kerusakan lingkungan, terutama di kawasan pesisir pantai yang kini mengalami abrasi cukup parah.
Ia menyadari bahwa langkah penegakan hukum tersebut akan memunculkan pro dan kontra di tengah masyarakat. Namun, demi kepentingan yang lebih besar, penyelamatan lingkungan harus menjadi prioritas utama.
“Orang Melayu sangat memperhatikan soal lingkungan. Kalau makan tak menghabiskan, menebang tidak memusnahkan. Tetapi sekarang ini sudah sampai pada tahap memusnahkan,” tegasnya.
Datuk Seri juga menggambarkan kondisi pesisir di sejumlah wilayah Kepulauan Meranti yang kini semakin rusak dan mengkhawatirkan. Abrasi pantai terus terjadi, sementara kawasan mangrove yang selama ini menjadi benteng alami pesisir semakin berkurang.
“Pantai-pantai di pesisir ini sudah hancur dan sangat genting keadaannya. Kalau tidak segera diselesaikan, maka dampaknya akan semakin besar,” katanya.
Di sisi lain, ia mengapresiasi berbagai kelompok masyarakat dan komunitas lingkungan yang terus melakukan penanaman mangrove. Namun menurutnya, upaya tersebut akan sia-sia apabila kerusakan terus berlangsung tanpa pengawasan dan penertiban.
“Ada orang yang berusaha menanam, tapi ada pula yang lebih keras merusak, baik sengaja ataupun tidak disengaja,” ujarnya prihatin.
Lebih jauh, Datuk Seri menekankan bahwa kerusakan lingkungan pesisir bukan hanya berdampak pada kehidupan masyarakat dan ekosistem, tetapi juga berkaitan langsung dengan kedaulatan negara.
Ia menjelaskan bahwa garis pantai menjadi bagian penting dalam penentuan batas wilayah negara. Apabila abrasi terus terjadi dan daratan semakin hilang, maka wilayah Indonesia di kawasan pesisir juga berpotensi ikut menyusut.
“Batas negara di pesisir itu diatur sejauh mana daratan terakhir. Kalau daratan semakin habis, maka batas wilayah kita juga semakin mundur,” jelasnya.
Karena itu, LAMR mendukung penuh langkah Polda Riau yang dinilai serius menangani persoalan tersebut langsung di bawah pengendalian Kapolda Riau.
“Kita sangat mendukung upaya ini, apalagi dikendalikan langsung oleh Polda Riau dan ditangani Kapolda,” tambahnya.
Datuk Seri juga mengajak seluruh masyarakat untuk ikut menjaga alam dan mendukung proses penegakan hukum dengan tetap mengedepankan ketertiban.
“Kita mengharapkan masyarakat membantu seluas-luasnya, tetapi bukan mengambil tindakan sendiri. Kita serahkan kepada aparat penegak hukum,” pungkasnya.
Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa keberlangsungan hutan mangrove bukan hanya tentang menjaga pohon dan pantai, melainkan menjaga kehidupan generasi mendatang. Mangrove adalah benteng alami dari abrasi, rumah bagi biota laut, sekaligus penyangga kehidupan masyarakat pesisir yang bergantung pada laut dan alam sekitarnya.
Di tengah ancaman kerusakan yang terus membayangi pesisir Kepulauan Meranti, harapan besar kini tertuju pada kesadaran bersama bahwa alam bukan warisan nenek moyang semata, melainkan titipan untuk anak cucu di masa depan.
























