PMII Bengkalis Serahkan Kajian “Bengkalis Resilient 2026” ke Pemkab

PMII Kabupaten Bengkalis menyerahkan kajian strategis “Bengkalis Resilient 2026” kepada Pemkab Bengkalis. Kajian ini memuat isu fiskal, tata kelola, energi, dan ekonomi daerah sebagai gagasan transformatif untuk pembangunan berkelanjutan dan kemandirian daerah.

PMII Bengkalis Serahkan Kajian “Bengkalis Resilient 2026” ke Pemkab
Bengkalis Resilient 2026: PMII Kabupaten Bengkalis Hadirkan Gagasan Kritis-Transformatif Demi Masa Depan Daerah yang Mandiri dan Berdaya Saing

TOPIKPUBLIK.COM – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Bengkalis kembali menunjukkan perannya sebagai kekuatan intelektual dan sosial yang aktif mengawal arah pembangunan daerah. Melalui audiensi strategis bersama Pemerintah Kabupaten Bengkalis di Wisma Sri Mahkota, Selasa (5/5/2026), PMII menyerahkan sebuah kajian komprehensif bertajuk “Bengkalis Resilient 2026: Gagasan Kritis-Transformatif PMII Kabupaten Bengkalis”.

Kajian tersebut tidak hanya menjadi dokumen akademik biasa, tetapi juga memuat peta persoalan daerah, analisis kebijakan publik, hingga rekomendasi strategis terhadap delapan isu utama yang dinilai menjadi tantangan sekaligus peluang besar bagi masa depan Kabupaten Bengkalis. Mulai dari persoalan fiskal daerah, tata kelola pemerintahan, energi dan distribusi BBM, penguatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), reformasi BUMD, penguatan ekonomi lokal, hingga isu sosial dan keberlanjutan pembangunan.

Audiensi berlangsung dalam suasana hangat, terbuka, dan penuh dialog konstruktif. Pertemuan tersebut dihadiri langsung oleh Bupati Bengkalis beserta jajaran Pemerintah Kabupaten Bengkalis dan pengurus cabang PMII Kabupaten Bengkalis. Momentum ini menjadi ruang strategis bagi kalangan mahasiswa untuk menyampaikan gagasan kritis sekaligus menawarkan solusi nyata terhadap berbagai tantangan pembangunan daerah.

Dalam kesempatan itu, PMII Kabupaten Bengkalis menegaskan komitmennya untuk terus hadir sebagai mitra kritis-transformatif pemerintah daerah dalam mengawal kebijakan publik yang lebih progresif, responsif, berkelanjutan, dan berpihak kepada kepentingan masyarakat luas.

Ketua PMII Kabupaten Bengkalis, Syahrul Mizan mengatakan bahwa delapan isu strategis yang diangkat dalam kajian tersebut merupakan bentuk kepedulian serius PMII terhadap arah masa depan Kabupaten Bengkalis di tengah dinamika ekonomi dan tantangan global yang semakin kompleks.

Menurutnya, generasi muda tidak boleh hanya menjadi penonton dalam proses pembangunan, tetapi harus mampu menjadi bagian penting dalam menghadirkan solusi, gagasan, dan kritik yang konstruktif bagi daerah.

“Kajian ini kami susun sebagai bentuk kontribusi intelektual PMII untuk mendorong tercapainya pembangunan daerah yang lebih terarah, adaptif, dan berpihak kepada kepentingan masyarakat. PMII ingin memastikan bahwa suara generasi muda menjadi bagian penting dalam proses pembangunan daerah,” ujarnya.

Lebih lanjut, Syahrul Mizan menilai bahwa Kabupaten Bengkalis memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi daerah yang kuat secara ekonomi dan mandiri secara fiskal. Namun di sisi lain, daerah ini masih menghadapi sejumlah tantangan struktural yang membutuhkan keberanian dalam melakukan transformasi kebijakan.

Ia menyoroti masih tingginya ketergantungan daerah terhadap sektor migas dan dana transfer pusat, lemahnya optimalisasi PAD, persoalan distribusi BBM di wilayah kepulauan, hingga belum maksimalnya peran Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) sebagai motor penggerak ekonomi masyarakat.

“Kami melihat Kabupaten Bengkalis memiliki potensi besar, namun masih menghadapi tantangan struktural, mulai dari ketergantungan fiskal, lemahnya optimalisasi PAD, persoalan distribusi BBM, hingga belum maksimalnya peran BUMD sebagai penggerak ekonomi daerah. Karena itu, PMII hadir membawa gagasan dan rekomendasi yang konstruktif demi masa depan daerah yang lebih mandiri dan berdaya saing,” tambahnya.

Dalam kajian Bengkalis Resilient 2026, PMII juga menekankan pentingnya pembangunan berbasis ketahanan daerah (regional resilience) yang tidak hanya berfokus pada pertumbuhan ekonomi semata, tetapi juga memperhatikan aspek keberlanjutan sosial, penguatan kapasitas masyarakat, pemerataan pembangunan, dan ketahanan fiskal jangka panjang.

PMII menilai bahwa pembangunan daerah di era modern membutuhkan keberanian pemerintah dalam membuka ruang kolaborasi bersama masyarakat sipil, akademisi, pemuda, dan organisasi kemahasiswaan agar proses pembangunan berjalan lebih partisipatif dan tepat sasaran.

Sementara itu, Bupati Bengkalis, Kasmarni menyambut baik kajian strategis yang disampaikan PMII Kabupaten Bengkalis. Ia mengapresiasi keterlibatan aktif mahasiswa dalam memberikan masukan terhadap arah pembangunan daerah dan penguatan tata kelola pemerintahan.

Menurutnya, pemerintah daerah membutuhkan ruang dialog yang sehat bersama kalangan akademisi dan mahasiswa agar kebijakan yang dirumuskan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat di lapangan.

“Kami mengapresiasi langkah PMII yang hadir membawa kajian dan gagasan. Pemerintah daerah tentu membutuhkan masukan yang konstruktif, terutama dari kalangan akademisi dan mahasiswa, agar kebijakan yang diambil benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” ujar Kasmarni.

Kasmarni juga menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Bengkalis terbuka terhadap kritik, saran, dan rekomendasi yang bersifat membangun demi kemajuan daerah. Ia menilai pembangunan tidak dapat dilakukan secara parsial oleh pemerintah semata, melainkan membutuhkan dukungan dan sinergi seluruh elemen masyarakat.

“Pembangunan daerah tidak dapat dilakukan sendiri oleh pemerintah. Dibutuhkan sinergi bersama seluruh elemen, termasuk mahasiswa, agar Kabupaten Bengkalis mampu menghadapi tantangan fiskal, memperkuat ekonomi daerah, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan,” ungkapnya.

Pertemuan tersebut menjadi simbol penting tumbuhnya kolaborasi antara pemerintah daerah dan kalangan mahasiswa dalam menciptakan pembangunan yang lebih inklusif dan visioner. Audiensi ini juga menunjukkan bahwa gerakan mahasiswa tetap memiliki posisi strategis sebagai kekuatan moral dan intelektual dalam menjaga arah pembangunan daerah agar tetap berpihak kepada kepentingan rakyat.

Melalui gagasan Bengkalis Resilient 2026, PMII Kabupaten Bengkalis berharap lahirnya kebijakan-kebijakan yang lebih responsif, progresif, inovatif, dan mampu menjawab tantangan masa depan daerah, terutama dalam menghadapi dinamika ekonomi global, transformasi energi, dan penguatan ekonomi masyarakat lokal.

Audiensi tersebut sekaligus diharapkan menjadi langkah awal dalam memperkuat sinergi jangka panjang antara Pemerintah Kabupaten Bengkalis dan generasi muda, demi mewujudkan Kabupaten Bengkalis yang bermarwah, maju, mandiri, dan sejahtera di masa mendatang.