Lomba Berzanji Marhaban 2025, Pemkab Bengkalis Tekankan Pelestarian Budaya Melayu Islam

Pemkab Bengkalis melalui Asisten Perekonomian H. Toharuddin dorong Lomba Berzanji Marhaban 2025 jadi momentum pelestarian budaya Melayu Islam.

Lomba Berzanji Marhaban 2025, Pemkab Bengkalis Tekankan Pelestarian Budaya Melayu Islam
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kabupaten Bengkalis, H. Toharuddin, mewakili Bupati Bengkalis saat membuka Lomba Berzanji Marhaban se-Kabupaten Bengkalis 2025 di Balai Adat LAMR Kecamatan Mandau.

TOPIKPUBLIK.COM – MANDAU – Bupati Bengkalis Kasmarni melalui Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kabupaten Bengkalis, H. Toharuddin, menegaskan pentingnya pelestarian seni dan budaya Melayu Islam melalui Lomba Berzanji Marhaban tingkat Kabupaten Bengkalis tahun 2025. Kegiatan ini diharapkan bukan sekadar ajang perlombaan, melainkan momentum strategis untuk menjaga warisan tradisi Islam yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Melayu agar tidak hilang ditelan arus modernisasi.

Pesan itu disampaikan Toharuddin saat mewakili Bupati Bengkalis menghadiri Lomba Berzanji Marhaban se-Kabupaten Bengkalis yang digelar Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Kecamatan Mandau pada Jum’at, 22 Agustus 2026, bertempat di halaman Balai Adat LAMR Kecamatan Mandau.

Berzanji Marhaban: Warisan Budaya Islam yang Sarat Makna

Dalam sambutannya, Toharuddin menjelaskan bahwa kitab Berzanji merupakan karya sastra Islam yang menggambarkan perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW sejak lahir hingga wafat. Tradisi membacanya bukan hanya sebagai bentuk syiar dan shalawat, tetapi juga sebagai sarana memperkokoh kecintaan umat kepada Rasulullah SAW.

“Dengan membaca Berzanji, kita bukan hanya melantunkan shalawat, tetapi juga memperkuat ikatan batin dengan Nabi Muhammad SAW. Tradisi ini perlu terus dijaga, diwariskan, dan ditumbuhkan di tengah masyarakat agar generasi penerus tetap menghargai nilai spiritual serta kearifan lokal yang terkandung di dalamnya,” ungkap Toharuddin yang juga mantan Camat Pinggir.

Ia menilai, derasnya arus globalisasi dan pengaruh budaya modern membuat tradisi Berzanji Marhaban mulai tersisih dari kehidupan masyarakat. Padahal, sejak dulu Berzanji identik dengan berbagai kegiatan religius masyarakat Melayu, mulai dari prosesi aqiqah, syukuran, hingga peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Kini, sebagian tradisi tersebut mulai jarang ditemui sehingga dikhawatirkan generasi muda lebih terpikat dengan budaya populer ketimbang warisan budaya Islam mereka sendiri.

Menghidupkan Kembali Semangat Budaya Melayu Islam

Melalui lomba ini, Toharuddin berharap seni membaca Berzanji Marhaban tidak hanya kembali bergema di atas panggung perlombaan, tetapi juga hadir dalam aktivitas keseharian masyarakat. Nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi tersebut dapat menjadi pedoman dalam kehidupan, mulai dari membangun etika, memperkuat kepemimpinan, menanamkan akhlak, hingga menjaga kebersamaan dan persatuan.

“Oleh karena itu, kami mendorong agar lomba Berzanji Marhaban terus dilaksanakan setiap tahun. Hal ini akan memperkuat identitas budaya Melayu Islam sekaligus memperteguh karakter masyarakat Negeri Junjungan dalam bingkai adat, agama, dan kearifan lokal,” tambahnya.

Selain itu, ia juga mengajak generasi muda, organisasi kepemudaan, penggiat seni, hingga komunitas adat untuk terus berinovasi dalam melestarikan warisan budaya Islam. Menurutnya, perpaduan antara tradisi dan kreativitas generasi milenial akan membuat seni budaya Melayu Islam tetap relevan di era digital tanpa kehilangan ruh dan nilai spiritualnya.

“Teruslah berkreasi, berekspresi, dan berinovasi dalam melestarikan adat, seni, dan budaya Melayu Islami ini. Dengan begitu, semangat keagamaan, kebersamaan, serta identitas masyarakat Bengkalis akan tetap terjaga sepanjang zaman,” tutupnya.

Kegiatan Bernilai Edukatif dan Lingkungan

Sebagai bagian dari kegiatan budaya ini, panitia juga melaksanakan penanaman pohon buah-buahan di halaman Balai Adat LAMR Kecamatan Mandau. Aksi tersebut menjadi simbol harmonisasi antara pelestarian budaya, nilai keagamaan, dan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan hidup.

Dengan penyelenggaraan lomba Berzanji Marhaban 2025 ini, masyarakat Bengkalis diingatkan kembali bahwa adat, seni, dan budaya Melayu Islam bukan hanya peninggalan masa lalu, melainkan fondasi moral dan spiritual yang relevan untuk membangun peradaban di masa depan.