Perlawanan Hamas Guncang Militer Israel di Gaza
Perlawanan Hamas dan faksi Palestina guncang militer Israel di Gaza. Serangan intensif, korban sipil, dan kegagalan strategi Israel semakin nyata.
TOPIKPUBLIK.COM – GAZA, PALESTINA – Situasi kemanusiaan dan militer di Jalur Gaza memasuki babak baru yang sangat menentukan. Di tengah blokade yang semakin mencekik dan agresi militer Israel yang tak kunjung reda, kelompok perlawanan Palestina justru menunjukkan intensitas serangan yang kian meningkat dan strategi militer yang lebih matang serta terkoordinasi.
Di tengah berbagai manuver diplomatik Amerika Serikat (AS)—yang oleh banyak pengamat dinilai lebih berpihak pada kepentingan geopolitik Israel ketimbang memperjuangkan hak asasi rakyat Palestina—faksi-faksi pejuang kemerdekaan Palestina terus mengukir perlawanan yang tak gentar. Ini menandai babak penting dalam sejarah konflik berkepanjangan yang menyayat nurani dunia.
Kelompok bersenjata seperti Brigade Izzuddin al-Qassam (sayap militer Hamas), Saraya al-Quds (sayap militer Jihad Islam), dan sejumlah faksi lainnya secara bergantian melancarkan rentetan serangan strategis terhadap posisi pasukan militer Israel di berbagai titik vital.
Intensitas Perlawanan Palestina Meningkat
Di wilayah Khan Younis, Gaza bagian selatan, serta sejumlah sektor di sepanjang jalur perbatasan yang terblokade, aksi perlawanan berlangsung nyaris tanpa jeda. Al-Qassam mengklaim keberhasilan menembak seorang prajurit Israel di dekat Bukit al-Muntar, kawasan strategis di sebelah timur Shujaiya, Kota Gaza.
Tak hanya itu, dua tank tempur Merkava, satu kendaraan angkut personel, dan satu buldoser lapis baja milik militer Israel dilaporkan hancur lebur akibat ledakan ranjau darat berkekuatan tinggi yang telah ditanam di kawasan Jabalia, Gaza Utara—wilayah padat penduduk yang menjadi saksi kekejaman penjajahan selama bertahun-tahun.
Saraya al-Quds bahkan merilis rekaman video dokumentasi operasi peledakan ladang ranjau dengan bahan peledak canggih jenis "Tsaqib", serta meluncurkan serangan presisi terhadap kendaraan lapis baja Israel menggunakan peluncur roket Yasin-105 di Abasan al-Kabirah, timur Khan Younis.
Puncaknya, al-Qassam melakukan penyergapan terhadap dua kendaraan angkut pasukan Israel di Khan Younis, yang menyebabkan sedikitnya tujuh tentara Israel tewas dan sejumlah lainnya mengalami luka serius. Serangkaian operasi ini memperkuat narasi bahwa militer Israel kini berada dalam tekanan tinggi di medan tempur yang semakin tak bersahabat.
Kegagalan Strategi Militer Israel
Pengamat urusan Israel, Ihab Jabarin, dalam wawancara dengan program Behind the News, menyatakan bahwa eskalasi serangan oleh pejuang Palestina memaksa Israel kembali menghadapi kenyataan pahit. Upaya militer yang sempat mendominasi narasi pasca operasi mereka di Teheran kini terbentur tembok kenyataan yang keras di Gaza.
Menurut Jabarin, Israel tengah berupaya keras merebut kembali inisiatif strategis di medan perang, namun fakta di lapangan menunjukkan bahwa kekuatan militer mereka tak mampu menaklukkan jaringan perlawanan yang tumbuh dari akar rumput masyarakat Gaza.
Hal senada disampaikan oleh Dr. Mustafa Barghouti, Sekretaris Jenderal Inisiatif Nasional Palestina. Ia menegaskan bahwa strategi “penyelesaian total” Israel, baik di Jalur Gaza, Tepi Barat, maupun kawasan sekitar, bertujuan menghapus sepenuhnya eksistensi perjuangan Palestina dan menggantikannya dengan pembersihan etnis sistematis. Namun, strategi tersebut telah terbukti gagal secara menyeluruh.
“Setelah lebih dari 21 bulan serangan brutal tanpa henti, Israel tetap gagal menghancurkan perlawanan Palestina ataupun mematahkan semangat rakyat untuk melawan pendudukan,” ujar Barghouti, menandaskan kekuatan moral yang terus tumbuh dari penderitaan rakyat.
Sikap Ganda Amerika Serikat dan Realitas Diplomasi Global
Dari perspektif diplomasi internasional, mantan pejabat senior Departemen Luar Negeri AS, Thomas Warrick, mengungkapkan bahwa selama tujuh pekan terakhir, Washington justru kehilangan fokus terhadap krisis Gaza. Perhatian Amerika lebih tertuju pada dinamika politik Iran dan prioritas strategis lainnya di kawasan.
Warrick menyebut adanya perbedaan pandangan antara Washington dan Tel Aviv, terutama menyangkut isu pembebasan tawanan serta pendistribusian bantuan kemanusiaan yang terhambat oleh kebijakan keras Israel. Bahkan, mantan Presiden Donald Trump disebut tengah mengupayakan jalur diplomasi pribadi untuk mengakhiri perang, meskipun terhalang oleh sikap keras Kepala Pemerintahan Israel, Benjamin Netanyahu—yang kini berstatus buron Pengadilan Kriminal Internasional (ICC).
Trump, menurut Warrick, melihat bahwa saat ini adalah momentum paling tepat untuk menghentikan perang. Namun, definisi “kemenangan” yang dipegang Netanyahu berbeda jauh dari persepsi komunitas internasional yang mendambakan keadilan dan perdamaian berkelanjutan.
Jabarin juga menilai bahwa Netanyahu, sejak kembali menjabat sebagai perdana menteri, lebih fokus pada pengelolaan krisis jangka pendek dibandingkan solusi jangka panjang. Ia menggunakan isu Palestina untuk menyelamatkan posisi politiknya, mulai dari wacana pemilu dini, normalisasi hubungan regional, hingga janji kosong soal negara Palestina yang tak kunjung terealisasi.
Tragedi Bantuan Kemanusiaan dan Kejahatan Perang
Laporan investigatif harian Haaretz mengungkap bahwa militer Israel secara resmi menerima instruksi untuk menembak warga sipil Palestina yang mencoba mengambil bantuan makanan di titik distribusi. Kebijakan ini memicu tragedi kemanusiaan berskala besar: lebih dari 560 warga sipil Palestina tewas di lokasi pembagian bantuan, sementara lebih dari 4.000 lainnya mengalami luka-luka—mayoritas di antaranya adalah anak-anak dan perempuan.
Situasi ini menegaskan bahwa konflik Gaza bukan hanya perang antar militer, melainkan juga tragedi kemanusiaan yang melibatkan pelanggaran hukum internasional secara sistematis. Dunia internasional didesak untuk tidak lagi tinggal diam menghadapi genosida perlahan yang terjadi di hadapan mata dunia.























