BNPP Tinjau Abrasi Parah Pulau Rangsang Meranti, Daratan Tergerus dan Sawah Terancam Hilang

BNPP RI meninjau langsung abrasi parah di Pulau Rangsang, Kepulauan Meranti, Riau. Daratan terus tergerus hingga puluhan meter, permukiman warga dan 128 hektare sawah terancam hilang akibat gelombang laut dan intrusi air asin.

BNPP Tinjau Abrasi Parah Pulau Rangsang Meranti, Daratan Tergerus dan Sawah Terancam Hilang
BNPP RI Tinjau Abrasi Parah di Pulau Rangsang Kepulauan Meranti, Daratan Tergerus Puluhan Meter dan Sawah Terancam Hilang

MERANTI – TOPIKPUBLIK.COM – Pemerintah pusat melalui Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) Republik Indonesia melakukan peninjauan langsung terhadap kondisi abrasi parah di wilayah pesisir Pulau Rangsang, Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau, Kamis (12/2/2026). Kunjungan kerja ini dilakukan sebagai bagian dari upaya pemerintah dalam memantau secara langsung kondisi wilayah perbatasan yang mengalami ancaman kerusakan lingkungan serius akibat abrasi pantai yang terus terjadi dari tahun ke tahun.

Rombongan pemerintah pusat tersebut dipimpin oleh Plt Deputi Bidang Pengelolaan Batas Wilayah Negara BNPP RI, Siti Metrianda, dan disambut oleh jajaran Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti. Hadir mendampingi dalam kegiatan tersebut Asisten I Setdakab Kepulauan Meranti Tengku Arifin, S.Sos, bersama Sekretaris Daerah, Kepala Bagian Tata Pemerintahan, Kepala Bagian Perbatasan, staf ahli, serta sejumlah pejabat terkait lainnya.

Rombongan BNPP RI tiba di Pelabuhan Tanjung Harapan sebelum melanjutkan perjalanan menuju wilayah terdampak abrasi di Kecamatan Rangsang Barat dan Kecamatan Rangsang Pesisir, dua kawasan yang dalam beberapa tahun terakhir tercatat mengalami kerusakan garis pantai yang cukup mengkhawatirkan.

Untuk menjangkau titik-titik abrasi, rombongan harus melanjutkan perjalanan menggunakan sepeda motor menyusuri jalan desa hingga ke kawasan pesisir. Peninjauan lapangan tersebut juga melibatkan aparat kecamatan, pemerintah desa, serta masyarakat setempat yang selama ini merasakan langsung dampak abrasi yang kian menggerus daratan.

Daratan Tergerus Setiap Tahun

Berdasarkan hasil peninjauan di lapangan, kondisi abrasi di Pulau Rangsang tergolong serius. Warga menyebutkan bahwa setiap tahun, terutama pada periode angin utara yang biasanya terjadi pada akhir tahun, gelombang laut yang tinggi terus menggerus daratan hingga puluhan meter.

Gelombang kuat yang disertai pasang laut tinggi menyebabkan air laut masuk jauh ke daratan, merusak lahan serta mengancam permukiman warga yang berada di sepanjang garis pantai.

“Setiap tahun tanahnya longsor. Gelombang kuat ditambah pasang laut membuat air masuk jauh ke darat. Bahkan kuburan warga sudah mulai dimasuki air asin,” ungkap salah seorang warga saat berdialog dengan rombongan pemerintah.

Menurut Asisten I Setdakab Kepulauan Meranti Tengku Arifin, kondisi geografis kawasan pesisir Pulau Rangsang yang didominasi tanah liat membuat daratan sangat rentan terhadap abrasi. Karakter tanah yang lunak menyebabkan daratan mudah ambles ketika dihantam gelombang laut secara terus-menerus.

Ia menjelaskan bahwa tekanan air laut yang besar menyebabkan lapisan tanah bagian bawah mengalami penurunan, sehingga garis pantai secara perlahan mundur ke arah daratan.

“Struktur tanah di kawasan ini cukup rapuh. Ketika gelombang datang terus-menerus, lapisan bawah tanah menjadi turun dan akhirnya daratan terkikis sedikit demi sedikit,” jelasnya.

Sejumlah desa yang berada di sepanjang pesisir Pulau Rangsang menjadi wilayah paling terdampak abrasi, di antaranya Desa Tanjung Kedabu, Telesung, Bungur, Tenggayun, Sonde, Tanah Merah, hingga Kedabu Rampat.

Dari total 11 desa yang berada di Kecamatan Rangsang Pesisir, sedikitnya tujuh desa berada tepat di garis pantai dan saat ini mengalami abrasi cukup berat. Bahkan kondisi tersebut menyebabkan dua desa menjadi terisolasi, karena akses darat menuju wilayah tersebut tidak lagi dapat dilalui secara normal.

Upaya Penanaman Mangrove Belum Maksimal

Untuk mengurangi dampak abrasi, masyarakat setempat sebenarnya telah melakukan berbagai upaya secara swadaya, salah satunya dengan melakukan penanaman pohon mangrove di sepanjang garis pantai.

Namun upaya tersebut belum memberikan hasil yang optimal. Tanaman mangrove yang baru ditanam sering kali tidak mampu bertahan karena kuatnya terjangan ombak laut.

“Kami pernah menanam sekitar 800 batang mangrove. Tapi ketika angin kencang datang pada bulan Desember, banyak yang rusak dan mati karena gelombang laut terlalu kuat,” ujar salah seorang warga.

Masyarakat menilai keberadaan batu pemecah ombak atau tanggul penahan gelombang sangat dibutuhkan agar tanaman mangrove dapat tumbuh dengan baik dan berfungsi sebagai pelindung alami pantai.

Ancaman Serius Terhadap Ketahanan Pangan

Abrasi pantai di Pulau Rangsang tidak hanya berdampak pada kawasan permukiman warga, tetapi juga mulai mengancam sektor pertanian yang menjadi sumber penghidupan masyarakat.

Data yang dihimpun pemerintah desa menunjukkan sedikitnya 128 hektare lahan sawah dan lahan pertanian pangan berpotensi mengalami kerusakan akibat intrusi air laut yang semakin meluas ke daratan.

Air laut yang meresap ke dalam tanah dapat merusak struktur dan kesuburan tanah, sehingga lahan pertanian menjadi tidak produktif. Jika kondisi ini terus berlanjut, maka produksi pangan masyarakat setempat dikhawatirkan akan menurun drastis.

“Kalau abrasi ini terus terjadi, sawah masyarakat bisa hilang. Padahal kawasan ini selama ini menjadi bagian dari upaya penguatan lumbung pangan daerah,” ungkap aparat desa setempat.

Penanganan Abrasi Masuk Prioritas Nasional

Menanggapi kondisi tersebut, Plt Deputi Pengelolaan Batas Wilayah Negara BNPP RI Siti Metrianda menjelaskan bahwa penanganan abrasi di wilayah pesisir Provinsi Riau sebenarnya telah masuk dalam program prioritas nasional yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020–2024.

Dalam program tersebut, terdapat tiga pulau utama di wilayah pesisir Riau yang menjadi fokus perhatian pemerintah pusat, yakni Pulau Rangsang, Pulau Bengkalis, dan Pulau Rupat.

Namun hingga saat ini pembangunan infrastruktur pengaman pantai di beberapa titik masih belum sepenuhnya selesai, sehingga sejumlah kawasan masih mengalami kerusakan garis pantai yang cukup serius.

“Data dan kondisi lapangan yang kami lihat hari ini akan kembali kami laporkan ke pemerintah pusat sebagai bahan evaluasi untuk penanganan lanjutan,” jelasnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa perubahan garis pantai di Pulau Rangsang tergolong cukup ekstrem. Bahkan terdapat mercusuar yang dahulu berada di daratan, kini posisinya sudah berada di tengah laut karena daratan di sekitarnya telah terkikis abrasi hingga ratusan meter.

Harapan Masyarakat: Tanggul dan Batu Penahan Ombak

Melihat kondisi tersebut, masyarakat Pulau Rangsang berharap pemerintah pusat dapat segera membangun tanggul pengaman pantai serta pemasangan batu bronjong atau batu pemecah ombak, seperti yang telah dilakukan di beberapa wilayah pesisir lainnya, termasuk di Pulau Rupat.

Warga menilai pembangunan infrastruktur perlindungan pantai menjadi langkah penting untuk menyelamatkan kawasan permukiman serta lahan pertanian yang menjadi sumber ekonomi masyarakat.

“Kalau tidak segera ditangani, bukan hanya perkampungan yang hilang, tetapi juga lahan pertanian masyarakat. Ini menyangkut keselamatan dan penghidupan warga,” ujar salah seorang tokoh masyarakat.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti menegaskan komitmennya untuk terus berkoordinasi dan melaporkan perkembangan kondisi abrasi di Pulau Rangsang kepada pemerintah pusat.

Langkah tersebut diharapkan dapat mempercepat realisasi program penanganan abrasi, khususnya di wilayah perbatasan negara yang memiliki posisi strategis dan membutuhkan perhatian khusus dari pemerintah.

Dengan adanya penanganan yang serius dan berkelanjutan, masyarakat berharap kawasan pesisir Pulau Rangsang dapat terselamatkan dari ancaman abrasi yang selama ini terus menggerus daratan serta mengancam masa depan kehidupan masyarakat setempat. (Infotorial)

Wartawan : Ade Tian Prahmana